Rusaknya ekosistem KARST Karena Aktivitas Pertambangan?

Terdapat suara yang diutarakan oleh sejumlah penggiat lingkungan dan masyarakat daerah Gunung Kendeng, Jember mengenai karst. Mereka berpendapat bahwa ekosistem karst saat ini sedang dikategorikan dalam fase bahaya. Hal ini disebabkan aktivitas pertambangan yang berpotensi merusak kawasan karst tersebut. Keberadaan industri semen juga dianggap berdampak pada keberlangsungan hidup masyarakat sekitar kawasan karst.

Terdapat beberapa sisi negatif yang diangkat oleh aktivis lingkungan dan masyarakat sekitar mengenai dampak yang akan terjadi dari aktivitas pertambangan di daerah karst disertai dengan tanggapan ataupun klarifikasi dari kalangan akademis dan pihak PT. Semen Indonesia.

Menurut Koordinator Jaringan Masyarakat Pegunungan Kendeng (Mingming) bahwa pendirian pabrik semen di karst Watu Putih mengancam lingkungan dengan merusak mata air dan gua Watu Putih. Ditanggapi oleh PT. Semen Indonesia bahwa sistem penambangan yang dilakukan adalah zero run off. Sistem ini diterapkan dengan memerangkap air yang ada dan tidak membiarkan terjadi pembuangan sejumlah air dari tambang. Bahkan sistem yang akan diimplementasikan akan meningkatkan volume dan ketedapatan air tanah dengan mengkonstrasikan penyerapan air hujan kedalam formasi batu kapur/karst yang ada.

Di Kabupaten Rembang memang tidak dapat dipungkiri bahwa memang disana terdapat beberapa mata air dan goa basah yang menurut hakikatnya merupakan kawasan lindung dan tidak dapat diperuntukkan untuk kegiatan-kegiatan yang merubah bentang alam. Akan tetapi, berdasarkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi yang telah dipegang oleh PT Semen Indonesia, wilayah yang termasuk daripadanya sebesar 520 Ha tidak terdapat sama sekali mata air dan goa basah. Pada Cekungan Watu Putih, Kabupaten Rembang, meskipun pada IUP Operasi Produksi tertera sebesar 520 Ha, hanya 487 Ha yang akan ditambang dan sisanya untuk kepentingan lingkungan.
Untuk itu pemerintah perlu melakukan pemantauan berkala terhadap aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan. Pemerintah juga sebaiknya bekerja sama dengan perusahaan dalam ‘izin lingkungan’ mempublikasikan seluas-luasnya, terutama kepada masyarakat sekitar bahwa wilayah perusahaan aman dari keterdapatan mata air dan goa basah.

Begitupun masyarakat untuk memberikan bukti fisik ke pemerintah yang bertanggung jawab apabila terdapat kelalaian perusahaan dalam pemenuhan kewajibannya, sehingga dapat diberikan tindak lanjut oleh pihak yang berwenang. Bukan malah mencoreng nama baik pihak luar dengan tuduhan-tuduhan.
Aktivis lingkungan mengatakan bahwa cekungan air tanah tidak boleh ditambang mengacu pada surat yang dikeluarkan Pak Surono selaku Kepala Badan Geologi. Ditanggapi oleh akademisi bahwa cekungan air tanah (CAT) legal untuk ditambang, apabila cekungan air tanah tidak boleh ditambang maka tidak akan ada penambangan di Indonesia karena hampir semua tambang, minyak, gas, geothermal, mineral, dan batubara yang ada saat ini berada pada daerah Cekungan air tanah (CAT). Bahkan di lokasi pertambangan di Rembang terutama di Cekungan Watu Putih, terdapat wilayah pertambangan yang sampai saat ini masih berjalan dan hanya PT. Semen Indonesia yang terkena imbas dari surat yang diberikan Kepala Badan Geologi kepada Pemerintah daerah Jawa Tengah.
Untuk itu diharapakan masyarakat dan LSM hendaknya berpikir lebih terbuka dan sebaiknya Pemerintah mengadakan duduk bersama Bapak Surono selaku Kepala Badan Geologi, beserta ahli geologi dan ahli pertambangan yang dipercaya oleh Pemerintah dan Perusahaan dalam pembangunan proyek tersebut sejak awal. Pertemuan tersebut didokumentasikan oleh media sehingga dapat dipantau oleh masyarakat luas.

Ada juga yang mempertanyakan tentang penyusunan AMDAL yang katanya tidak transparan. Hal ini ditanggapi PT. Semen indonesia bahwa keterbukaan dalam penyusunan sudah dilakukan, namun pada kenyataannya kurang merata. Adnan Buyung Nasution sebagai kuasa hukum PT. Semen Indonesia sudah melakukan pertemuan dengan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Adnan mengatakan dalam suatu media, bahwa akan terus melakukan berbagai upaya pendekatan secara persuasif serta penjelasan ilmiah pada kelompok masyarakat yang masih menolak. Semen Indonesia juga melakukan transparansi laporan setiap tahunnya yang dapat dilihat pada websitenya,
www.semenindonesia.com/page/get/laporan-tahunan-78

Dalam hal ini perusahaan harus mengakui kekurangannya dalam hal ini karena menganggap kepada Kepala Desa dan keluarga yang seharusnya berlaku sebagai representasi desa saja sudah cukup. Berdasarkan kepercayaan akan representasi ini, perusahaan tidak salah. Namun perusahaan menjadi salah saat ternyata masyarakat dengan jumlah yang lebih banyak menganggap fungsi kepala desa dalam representasi pemberian izin lingkungan pada nyatanya tidak ada. Dalam hal ini perusahaan harus memiliki bukti fisik keterlibatan masyarakat dalam pemerolehan izin lingkungan.

Begitu juga masyarakat baiknya mengikuti segala publikasi yang diadakan oleh PT. Semen Indonesia. Bila dalam keberjalanannya bermasalah, silakan lapor kembali kepada pihak berwenang.

Masyarakat juga menyuarakan bahwa sumber mata air di kawasan karst Watu Putih harus dilindungi, dengan dimulainya proses penambangan dapat menyebabkan matinya sumber air. Ditanggapi oleh akademisi bahwa Karst merupakan batu gamping yang berpori. Gamping yang ada di wilayah Indonesia hampir seluruhnya 99% merupakan batu Karst karena Indonesia berada di wilayah tropis. Dalam peraturan, yang diatur untuk tidak boleh dirubah bentang alamnya atau ditambang diatur sebagai kawsan lindung adalah Kawasan Bentang Alam Karst dan bukan kawasan Karst. Apabila Karst tidak boleh ditambang maka di Indonesia tidak akan ada produksi semen. Kawasan Bentang Alam Karst merupakan kawasan yang mana terdapat keindahan bentang alam seperti stalagtit dan stalagmit.

Karst yang isunya merupakan daerah resapan yang menyimpan air hanyalah mitos. Pada wilayah penambangan pastilah wilayah karst karena Indonesia merupakan daerah tropis dan batuan gamping pada wilayah tropis hampis seluruhnya berupa karst.

Untuk kedepannya akademisi dan perusahaan harus menyampaikan kepada masyarakat bahwa sumber air tidak akan mati dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.

Keilmuan pertambangan dibuat untuk melakukan praktik pertambangan yang baik dan berkelanjutan. Dengan kata lain, pertambangan sebagai komponen pembangunan yang berkelanjutan dengan penerapan good mining practice. Ini ditujukan untuk kesejahteraan sosial-masyarakat, lingkungan, dan ekonomi Negara, selain juga perusahaan. Hendaknya masyarakat dan lembaga-lembaga yang peduli terhadap pertambangan dan lingkungan tidak hanya sempit melihat pada satu perusahaan yang ternyata sudah benar dan baik dalam mengelola usahanya. Apabila hal ini terjadi, kita justru akan membiarkan usaha-usaha pertambangan yang tidak memenuhi parameter lingkungan dan sosial lolos begitu saja. Jangan sampai kita hidup dalam budaya dimana “Yang benar disalahkan, dan yang salah didiamkan”.

Jangan pernah berkata Anda tidak berilmu atau tidak peduli dengan ilmu yang tidak menjadi bidang Anda, karena segala jenis ilmu yang dimiliki oleh setiap Bangsa dapat menjadi senjata untuk menyerang sekaligus tembok untuk berlindung.

By
Muhammad Asrafil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>