Pro-Kontra PLTPB Baturraden

Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturraden direncanakan akan segera terealisasi. Mulai tahun 2017 energi listrik dari hasil eksploitasi tenaga panas bumi di lereng Gunung Slamet tersebut akan mulai diproduksi dan dijual, oleh PT Sejahtera Alam Energy (SAE) selaku pemenang lelang pengembangan Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Panas Bumi Baturraden.

Proyek PLTP Baturraden termasuk bagian dari crash program 10.000 MW Tahap II yang menjadi program pemerintah pusat, sesuai Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No 02 Tahun 2010 dan Permen ESDM No 15 Tahun 2010. Menurut Permen tersebut, estimasi kapasitas daya listrik yang dihasilkan PLTP Baturraden adalah 2 x 110 MW.

Namun disamping proyeksi pengembangan dengan berbagai manfaat yang akan didapat, masih ada beberapa kendala yang harus dihadapi dan diselesaikan untuk suksesnya mega proyek energi di Kabupaten Banyumas ini. Disamping lokasi yang tumpang tindih dengan kawasan lain (kehutanan, cagar budaya dan pariwisata), dan banyaknya ijin yang dibutuhkan setelah terbitnya IUP, juga karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang kegiatan pengembangan panas bumi beserta manfaatnya sehingga memunculkan pro dan kontra.

Sebagian masyarakat merasa ketakutan akan bahaya pemboran, seperti resiko lumpur yang dapat mengakibatkan tercemarnya air di daerah tersebut. Padahal, menurut pengelola PLTPB Baturraden struktur tanah dan batuan di lokasi pemboran panas bumi Baturraden dinilai secara teknis aman.  Disebutkan bahwa, belum banyaknya efek ikutan/multiplier effect dari proyek panas bumi terhadap perekonomian masyarakat sekitar dan pembangunan daerah sebagai kendala lain yang juga dipermasalahkan oleh masyarakan dan harus segera dicarikan solusinya.

Kekhawatiran warga bukannya tanpa bukti, hal tersebut terjadi pada awal tahun 2017 dimana Air di Sungai Prukut yang melintasi desa setempat keruh. Tak hanya itu, Curug Cipendok yang merupakah tempat wisata air terjun tersohor di Banyumas juga terkena dampaknya, Air yang biasanya jernih berubah menjadi coklat, kolam-kolam ikan milik warga terpengaruh akibat keruhnya air tersebut dan hal tersebut disebabkan oleh proyek pengerjaan PLTPB yang dikerjakan oleh PT Sejahtera Alam Energy (SAE).

Meski PT SAE kemudian membantu warga memenuhi kebutuhan air bersih yang melakukan penanganan hingga kini air sudah jernih kembali, namun mulai muncul kembali kekhawatiran masyarakat. Pada akhirnya, terjadi demo yang melibatkan ratusan orang yang menamakan dirinya Aliansi Selamatkan Slamet untuk menghentikan proyek PLTPB tersebut.

Memang untuk suksesnya proyek pembangunan dan pengembangan PLTPB Baturraden, diperlukan dukungan dari berbagai pihak. Beberapa dukungan yang diperlukan antara lain, dukungan dari semua sektor birokrasi yang terkait dalam hal perizinan, partisipasi dunia pendidikan dan kalangan masyarakat luas dalam pencapaian pemahaman tentang kebutuhan energi listrik melalui pengembangan panas bumi, perencanaan pengembangan daerah untuk investasi panas bumi sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banyumas, serta fasilitasi terhadap pengembang.

Namun Pro dan kontra pembangunan PLTP Baturraden memang masih terus terjadi. Tentu saja harus ada titik yang mempertemukan seluruh pemangku kepentingan. Tidak ada yang instan, semuanya butuh proses dan memerlukan keterbukaan dalam berpikir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>