Minezone (Bedah Film Mine 9)

Apa yang terlintas dipikiran anda ketika mendengar kata “Pertambangan’? apa yang dapat anda bayakan ketika hal ini dilakukan dibawah tanah? mengerikan bukan?

Sejatinya pertambangan merupakan industri rantai panjang yang kaya akan modal dan padat akan resiko. Menurut Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU No. 4/2009) Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang. Tambang bawah tanah itu sendiri merupakan salah satu dari metode penambangan yang segala kegiatan penambangan dilakukan dibawah permukaan bumi/ tidak berhubungan langsung dengan udara luar.

Sebuah perusahaan perfilman Amerika Serikat merilis sebuah film mengenai peliknya dunia pertambangan pada 12 April 2019 yang diberi judul “Mine 9”. Film ini mengisahkan 9 penambang Appalachian yang berjuang untuk dapat bertahan hidup usai ledakan metana yang meninggalkan mereka hanya dengan 1 jam oksigen. Diawali dengan orang-orang yang bekerja di tempat kerja yang berbahaya di tambang batubara dengan jarak dua mil di bawah kota asal mereka. Tragedi bermula ketika section leader mereka memberikan arahan untuk tidak melanjutkan aktivitas penambangan dikarenakan kadar metana yang sudah melampaui ambang batas. Namun, para kru tetap melanjutkan penambangan sebab mereka tidak ingin kehilangan gaji. Hal ini berbuntut pada runtuhnya tambang bawah tanah, dan keracunan gas metana yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Berangkat dari kasus ledakan metana di film “MINE 9”, ada beberapa hal yang menjadi pusat perhatian kita yakni adanya aktivitas yang dilakukan tidak sesuai dengan kaidah penambangan yang benar. Segala rentetan tragedi yang terjadi sebagai akibat dari keselamat kerja yang dinomor duakan, para pekerja tambang lebih mengutamakan keuntungan dan capaian hasil produksi perusahaan. Tidak heran jika keuntungan menjadi lebih penting dibanding keselamatan, sebab di era milenial seperti saat ini uang telah menjadi raja dunia, masyarakat tidak bisa lepas dari teknologi dan informasi, masyarakat cenderung bersikap lebih konsumtif dalam segala bidang kehidupan.

Kecelakaan tambang pada dasarnya terjadi akibat aktivitas kerja yang tak sesuai dengan peraturan. Hal ini telah diatur dalam Permen ESDM No.26 tahun 2018 mengenai pelaksanaan kaidah pertambangan yang baik dan pengawasan pertambangan mineral dan batubara. Selain itu kecelakaan tambang juga diatur dalam Kepmen ESDM 1827 K/30/MEM/2018 mengenai pedoman pelaksanaan kaidah teknik pertambangan yang baik.  Dalam peraturan ini menyatakan bahwa, kecelakaan tambang memenuhi 5 (lima) unsur, terdiri atas :

1). Benar- benar terjadi, yaitu tidak diinginkan, tidak direncanakan, dan tanpa unsur kesengajaan;

2). Mengakibatkan cidera pekerja tambang atau orang yang diberikan oleh kepala teknik tambang (KTT) atau penanggung jawab teknik dan lingkungan (PTL);

3).  Akibat kegiatan usaha pertambangan atau pengolahan dan/atau pemurnian atau akibat kegiatan penunjang lainnya;

4). Terjadi pada jam kerja pekerja tambang yang mendapat cidera ata setiap saat orang yang diberi izin, dan

5). Terjadi di dalam wilayah kegiatan usaha pertambangan atau wilayah proyek.

Dalam film “MINE 9” para pekerja tambang memilih tetap melanjutkan aktivitas kerja atas dasar memenuhi kebutuhan hidup, dimana masyarakat tidak memiliki pilihan lain selain bekerja dalam industri pertambangan. Pertambangan menjadi mata pencarian utama bagi masyarakat walaupun nyawa menjadi taruhan sebagai asuransi kerja mereka. Hal ini menjadi fenomena yang seharusnya mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah terkait pemerataan lapangan kerja di daerah- daerah terpencil.

Terlepas dari hal diatas, terdapat faktor- faktor yang menjadi penyebab dari kecelakaan tambang, yakni :

1). Faktor alam

  1. Tekanan Gas Metana. Pembentukan gas ini sejalan dengan proses pembatubaraan maupun dari aktivitas- aktivitas penambangan. Pada tambang batubara bawah tanah ledakan akan terjadi pada gas metana dengan konsentrasi 5%.
  2. kestabilan batuan samping. Pada dasarnya batuan beku merupakan jenis batuan yang paling stabil digunakan sebagai batuan samping hal ini dikarenakan tingkat kekerasan batuan beku relatif lebih kuat.
  • Faktor alat

Alat tidak memenuhi standar keselamatan kerja:

  1. Penyangga
  2. Alat produksi
  3. Alat keselamtan kerja
  • Faktor manusia
  1. Buruknya Top Manajement Asessment
  2. Buruknya Bottom Manajement Asessment

 

Berbagai permasalahan yang ditemukan dalam lingkup tambang bawah tanah tentunya terdapat aktor yang menjadi pemeran utama dalam setiap pengambilan keputusannaya. Berdasarkan Permen ESDM 26 Tahun 2018 meyatakan bahwa Kepala Tambang Bawah Tanah yang selanjutnya disingkat KTBT adalah seseorang yang memiliki posisi tertinggi dalam struktur tambang bawah tanah yang bertugas memimpin dan bertanggung jawab atas terlaksananya operasional tambang bawah tanah sesuai dengan kaidah teknik pertambangan yang baik.

Melihat berbagai permasalahan diatas, PERMATA FT- UH sebagai organisasi kemahasiswaan dalam lingkup Departemen Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin yang bergerak dalam bidang keilmuan haruslah bisa menjadi wadah bagi para anggotanya untuk mengembangkan pengetahuan dan wawasan mengenai disiplin ilmu ketekniktambangan. Khususnya mengenai kaidah kaidah pertambangan yang baik dan pengawasan pertambangan mineral dan batubara. Selain itu semangat “safety first” serta prinsip dari K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) betul-betul harus dipahami oleh seluruh anggota PERMATA FT-UH pada khususnya dan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan penambangan pada umumnya.

 

HIDUP TEKNIK!

JAYALAH PERMATA!

DIG THE PAST FOR THE BRIGHTER FUTURE!

 

Kementrian Kajian dan Aksi Strategis BE PERMATA FT-UH Tahun 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>