Memahami Kebebasan Berpendapat

Kebebasan adalah hak setiap individu. Bebas berbicara, berkehendak, berpikir, beragama, dst. Apakah kebebasan absolut itu ada? Apakah kebebasan itu hanya bersifat parsial? Apakah bebas itu hanya fiktif belaka?

Bisakah kebebasan berpendapat dibatasi oleh aturan?

Kebebasan menyampaikan pendapat selalu didambakan oleh manusia, pada zaman dahulu dan zaman modern. Kutipan dari Cato,” Apabila seorang tidak bisa bicara atas keinginan sendiri, orang itu hampir tidak bisa berbuat apa-apa atas keinginannya sendiri”. Mencerminkan sesalan yang dirasakan hampir setiap pelosok dunia (Surabjee, 1993).

Kebebasan berbicara dan berpendapat adalah kebebasan yang mengacu pada sebuah hak untuk berbicara secara bebas tanpa adanya tindakan sensor atau pembatasan akan tetapi dalam hal ini tidak termasuk dalam hal untuk menyebarkan kebencian. dapat diidentikan dengan istilah kebebasan berekspresi yang terkadang digunakan untuk menunjukkan bukan hanya kepada kebebasan berbicara lisan, akan tetapi, pada tindakan pencarian, penerimaan dan bagian dari informasi atau ide apapun yang sedang dipergunakan.

Kebebasan berbicara di Indonesia telah di jamin, salah satunya yang tercantum dalam UUD 1945 pasal 28. Dimana dalam pasal ini menjamin semua warga negara untuk bebas mengeluarkan pendapat baik secara lisan maupun tulisan, tanpa takut adanya hal yang akan mengganggunya. Hal tersebut didasarkan pada kebebasan berbicara dan berpendapat merupakan salah satu hak asasi manusia. Indonesia juga sudah meratifikasi konvensi tentang HAM internasional.

Hak dan kebebasan berpendapat dapat dibatasi jika ditinjau dari segi baik buruknya. Pembatasan kebebasan berpendapat juga dapat dilakukan seperti yang disebutkan di dalam Deklasasi  Universal HAM tahun 1948 pasal 29 ayat 2, yang berbunyi “Dalam menjalankan hak-hak dan kebebasan-kebebasannya, setiap orang harus tunduk hanya pada pembatasan-pembatasan yang ditetapkan oleh undang-undang yang tujuannya semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan yang tepat terhadap hak-hak dan kebebasankebebasan orang lain, dan untuk memenuhi syarat-syarat yang adil dalam hal kesusilaan, ketertiban dan kesejahteraan umum dalam suatu masyarakat yang demokratis.” Pembatasan ini dilakukan agar seseorang bertanggung jawab terhadap pendapat yang disampaikannya. Selain itu, keputusan untuk membatasi kebebasan berpendapat diperlukan untuk melindungi keamanan nasional atau ketertiban publik.

Aturan-aturan yang mengatur mengenai kebebasan berpendapat

Pengaturan tentang kebebasan berekspresi dan berpendapat telah diatur dalam Undang-Undang No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Menurut Undang-Undang No. 9 Tahun 1998 pengertian tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat adalah hak setiap warga negara untuk menyampaikan pikiran dengan lisan, tulisan dan sebagainya secara bebas dan bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Terdapat juga beberapa aturan yang digunakan di Indonesia tentang kebebasan berpendapat yang diatur dalam :

  1. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB tahun 1948
  2. UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945
  3. Ketetapan MPR RI No. XVII/MPR/1993 tentang hak asasi manusia
  4. UU Republik Indonesia tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum
  5. UU Republik Indonesia No. 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia
  6. UU Republik Indonesia No. 11 tahun 2008 tetang informasi dan transaksi elektronik
  7. UU Republik Indonesia No. 19 tahun 2016 tentang informasi dan traksaksi elektronik

Hal yang harus digaris bawahi bahwa dalam mengartikan makna kebebasan, tergantung dari subjeknya. Apakah subjek menempatkan rasionalitasnya untuk memaknai kebebasan atau lebih mengandalkan batinnya untuk menjawab arti kebebasan. Pembuktian mengenai kebebasan itu nyata atau kebebasan hanya fiktif belaka tidak bisa sekadar berasumsi, tetapi harus dinyatakan dalam metodologi ilmiah untuk membuktikan kebenarannya. Berdasarkan hal tersebut, kebebasan bisa benar-benar ada atau hanya fiktif belaka tergantung dari subjek yang menilainya.

Oleh
Muhardi Jaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>