Divestasi Saham PT. Freeport Indonesia, Untuk Siapa?

Hari Kamis 12 Juli 2018 menjadi hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri ESDM Ignasius Jonan dan Direktur Utama PT. INALUM Budi Gunadi Sadikin sebagai wakil Indonesia berssama Richard Anderson selaku CEO PT. Freeport McMoRan Inc (FCX) telah brsepakan mengenai beberapa poin divestasi saham PT. Freeport Indonesia yang termanifestasi dalam Head of Agreement.

Menteri ESDM, Ignasius Nonan mengatakan poin-poin dalam Head of Agreement (HoA) terkait divestasi saham 51% PT Freeport Indonesia (PTFI) yang dilakukan tidak mengikat. HoA merupakan Frame of Work untuk melakukan transaksi lanjutan guna mengakuisisi 51% saham Freeport Indonesia melalui 40% hak partisipasi atau Participating Interest (PI) milik Rio Tinto dan 9,36% saham milik PT Indocoper Investama.

Untuk mendapatkan 51% saham itu proses HoA memang harus dilakukan untuk mengetahui tahapan selanjutnya. Setelah HoA akan ada kelanjutan agreement untuk mengakuisisi 51%. Diantaranya, sale purchasment agreement hak partisipasi 40% Rio Tinto. Selanjutnya, Sales Purchasment agreement 9,36% saham Indocopper, dan terakhir perubahan hak partisipasi 40% Rio Tinto menjadi saham.

Head of Agreement ini merupakan langkah baru dan awal yang positif bagi pemerintah dalam upaya mewujudkan amanat pasal 33 ayat 3 Undang-undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) mengkritik langkah pemerintah melakukan divestasi 51% PT Freeport Indonesia. Dari catatan JATAM, sejumlah divestasi di Indonesia selama ini justru kerap gagal dan hanya menguntungkan oligarki dan mafia pertambangan belaka. Menurut salah satu aktivis JATAM, Melky Nahar, menilai bahwa divestasi saham Freeport itu tak lebih dari praktik bisnis biasa dengan pemerintah Indonesia. “Menyetujui divestasi saham sama artinya dengan menyetujui Freeport terus di Papua dan melanjutkan pembongkaran kekeyaan itu tak ubahnya seperti penjajahan.”

Pada Kamis, 27 September 2018 PT INALUM menandatangani Sales and Purchase Agreement dengan Freeport McMoRan selaku induk usaha PT Freport Indonesia (PTFI) di kementerian ESDM. Dengan kesepakatan ini, Indonesia resmi memiliki 51% saham PTFI. Dalam kesepakatan tersebut turut hadir Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin serta Direktur Freeport McMoran Richard Anderson. Penandatangan ini disaksikan oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan, Menteri BUMN Rini Soemarwo, serta Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Kesepakatan ini merupakan turunan dari Frame work divestasi saham yang dilakukan Freeport McMoRan Inc dengan pemerintah pada 12 Juli 2018 lalu. Melalui kesepakatan ini diharapkan Indonesia mampu memperoleh keuntungan lebih dari PT. Freeport Indonesia.

Terlepas dari untung dan rugi yang diperoleh dari divestasi saham ini, sebenarnya ada hal yang mendasar yang terlupakan. Papua merupakan milik masyarakat papua, milik negara Indonesia sudah seharusnya segala kekayaan alam yang ada di Papua dimiliki oleh Indonesia, tanpa ada syarat dan ketentuan, dan dikelola untuk kepentingan masyarakat Papua. Tidak semestinya kita membeli tanah air sendiri.

Terkait kesepakatan yang telah diraih tersebut sebgai mahasiswa Tambang ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Diantanya:

  1. Mengapresiasi langkah pemerintah dalam mewujudkan amanat Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 sektor Pertambangan.
  2. Mendorong pemerintah untuk tegas dalam mengimplementasikan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan kegiatan usaha Pertambangan mineral dan Batubara.
  3. Adanya transparansi terhadap semua hal yang berkaitan setelah proses divestasi dan senantiasa mengawal setiap langkah pemerintah dalam upaya mewujudkan Energi yang berdaulat.

Akhir kata, kami memohon maaf jika ada kekeliruan dalam tulisan ini. Karena kesempurnaan hanyalah milik-Nya dan kelemahan adalah milik kita semua.

HIDUP TEKNIK!

JAYALAH PERMATA!

DIG THE PAST FOR BRIGHTER FUTURE!

By Kompartemen Kajian dan Aksi Strategis BE PERMATA FT-UH Periode 2018/2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>